Tradisi Gebyuran Bustaman Jelang Ramadan di kota Semarang

Tidak perlu pergi ke Thailand untuk melihat atau ikut perang air songkran, di Kampung Bustaman di kota Semarang, perang air membuat lawan sampai basah kuyup juga ada, tradisi ini di kenal dengan gebyuran bustaman yang rutin di lakukan menjelang Ramadan.

Menurut Hari Bustaman, tokoh masyarakat setempat, Gebyuran Bustaman merupakan tradisi peninggalan Kiai Bustaman, pendiri kampung.

awal nya, Menjelang Ramadan, Kiai Bustaman mengguyurkan air dari sumur kampung ke cucu-cucunya dengan tujuan gebyuran ini untuk membersihkan diri sebelum menjalani ibadah puasa, lalu di ikuti para santrinya dan akhir nya di ikuti oleh seluruh warga.

pada pagi hingga siang hari warga menyiapkan air ber aneka warna yang dibungkus plastik. dan di kumpulan di ember. dan banyak warna mencoret coret wajah nya beraneka warna, yang nanti nya akan di bersihkan dengan siraman air.

  • Semarang-1-4 (Large)
    Seorang anak mengisi air warna warni ke dalam kantong plastik, dan di kumpulkan di dalam ember.

    Semarang-1-3 (Large)
    anak lain nya menjaga “Amunisi” untuk Gebruyan Bustaman
  • Semarang-1-7 (Large)
    Banyak yang memakai bedak yang di wajah, sebelum Gebyuran di mulai, sebagai simbol membersihkan diri.

    Semarang-1-5 (Large)
    kantong plastik berisi air aneka warna siap di gunakan saat Gebyuran di mulai

sepanjang siang warga di hibur dengan pentas seni , dari warga kampung sendiri dengan menyumbangkan tatenta nya di panggung yang sudah di siapkan.

  • Semarang-1-18 (Large)

Kemudian saat menjelang sore, warga berkumpul di Mushala Al Barokah untuk berdoa  terlebih dahulu, untuk acara gebyuran ini berjalan lancar, tidak ada marah, iri dan dengki antar warga. dan di bulan Ramadan warga diberikan hati yang bersih, melebur dendam antara keluarga mau pun warga, tidak ada rasa permusuhan serta dalam beribadah puasa Ramadan dengan tenang dan khusyuk, Setelah mendapat doa dari sesepuh kampung  warga mulai tradisi gebyuran bustaman

  • Semarang-1-8 (Large)
    Saling coret wajah sebelum di gebyur

     

  • Semarang-1-9 (Large)
    Warga behadapan dan siap saling lempar air.
    Gebyuran Bustaman-1 (Large)
    Tidak ada warga yang di biarkan kering, anak anak akan memburu untuk melemparkan air yang sudah di siapkan di dalam kantong plastik, ada juga yang menyiram langsung dari ember.
    Gebyuran Bustaman-1-2 (Large)
    Berhadap hadapan untuk saling lempar kantong air.

     

  • Semarang-1-10 (Large)
    Suasana di tengah tengah Gebyuran Bustaman, air di mana mana
    Semarang-1-12 (Large)
    Tidak jarang yang kena siraman mendadak dari belakang.

     

    Semarang-1-13 (Large)
    Saat kantong air yang di siapkan habis, apa pun bisa di gunakan untuk mengisi air lagi

    Semarang-1-15 (Large)
    Anak Kampung Bustaman dengan amunisi yang baru, siap mencari target untuk di Gebyur

Setelah perang air selesai dan warga sudah basah kuyup, kemudian warga berkumpul untuk makan nasi gudangan bersama. Kebersamaan itu membuat warga tambah akrab.

  • Semarang-1-16 (Large)
    Makanan berlimpah di setiap sudut kampung untuk warga, setelah Gebyuran berakhir
  • Semarang-1-14 (Large)
    Tidak ketinggalan menu Gule yang terkenal yang di Bustaman.
  • Semarang-1-20 (Large)
    Pentol Mecon yang pedas nya “Mecon banget”

Tradisi ini terbuka untuk umum. Siapa saja yang tertarik, bisa langsung ke Kampung Bustaman, biasa nya di adakan satu minggu sebelum bulan Ramadan.

Ditulis oleh

Ngeblog untuk ninggalin jejak ...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.