Melihat dan merasakan langsung serunya Wisata Budaya, Rempug Tarung Adu Tomat atau Perang Tomat di Lembang 2019

Melihat dan merasakan serunya Tradisi Perang Tomat di Lembang 2019

Saya pernah membaca artikel online di tahun 2018 yang menceritakan perang tomat di Kampung Cikareumbi, Lembang, di artikel tersebut di informasikan acara ini di selengarakan lagi di minggu ke empat bulan Oktober 2019

Tetapi di awal bulan Oktober 2019 Satu minggu sebelum perang tomat saya mendapat informasi dari teman bahwa akan ada acara perang tomat di Lembang, acara nya sekitar minggu ke dua. Wow agak ragu apa lokasi nya di Kampung Cikareumbi atau bukan, jadi nya cari cari infomasi lebih detail. Tapi sayang informasinya masih sangat terbatas. Cuma berita berita ceremonial saja tidak ada informasi detail soal pelaksanaan nya. Tapi sedikit titik terang di dunia perang tomat Cuma ada 2 yang di beritakan, pertama festival La Tomatina di Spanyol dan yang ke dua Tradisi perang tomat di lembang. Jadi yakin yang di maksud teman saya ini di kampung Cikareumbi.

Persiapan ikut perang Tomat di Lembang.
Untuk Transportasi saya memilih menggunakan Tiket kereta Jakata Bandung, lalu di lanjutkan menggunakan mobil sewa menuju Lembang.

Ini persiapan dan peralatan yang saya bawa, sebagai referensi, kali aja ada teman teman yang mau ikut perang tomat tahun depan.

  1. Baju Ganti
  2. Jas Hujan (jika ingin baju tidak terlalu kotor / bau tomat)
  3. Kamera / action cam (waterproof lebih baik)
  4. UV Protector (karena saya menggunakan Kamera Mirrorless saya butuh proteksi tambahan untuk melindugi lenda agar tidak baret)
  5. Sandal gunung / yang anti slip, bisa di gunakan saat kita ikut perang tomat, sayang kalo pakai sepatu (susah sekali membersihkan nya)
  6. Camera Case waterproff atau bisa menggunakan bahan bahan DIY, saya mencontoh caya sbb, dan berjalan dengan baik. Kamera saya selamat dan baik baik saja.
Filter UV Protector, Pastikan lensa menggunakan Protector saat di gunakan di arena perang tomat.

Pada hari keberangkatan kami sudah janjian mepo di Stasiun Gambir, tepat pukul 23.20 Kereta Argo Parahyangan yang kami tumpangi berangkat dari stasiun Gambir, waktu tempuh Argo Parahyangan kurang lebih 3 jam, selama perjalanan kami gunakan untuk beristirahat, sekitar pukul 02:30 kita tiba di Stasiun Bandung. Langsung di lanjutkan dengan perjalanan menggunakan mobil minibus menuju Lembang, di tengah perjalanan masih bisa mencicipi menu kuliner sekoteng dan ketan bakar di daerah lembang. Sambil menunggu pagi 🙂

Singkat cerita kita sampai di lokasi perang tomat pukul 8.30, sengaja datang lebih untuk melihat persiapan sebelum perang tomat, dan benar juga kami datang lebih awal karena informasi sebelum nya perang tomat ini akan berlangsung sekitar pukul 15:00 ternyata saat kami datang pelaksaaan nya pukul 11:00. (dalam hati sempat bergumam wah tidak sia sia nih, berangkat malam malam dan tiba di bandung subuh, kalo telat kan sayang)

Menurut informasi salah satu pengiat budaya setempat Mas Nanu Muda atau akrab di panggil Bah Nanu makna perang tomat ini adalah salah satu ruatan tradisi setempat untuk bersama sama membuang sial segala macam sifat buruk dalam diri masyarakat maupun hal buruk dengan penyakit tanaman, tomat busuk ini menjadi bagian atau simbol sifat sifat buruk yang harus di buang.

“Dalam artian, Rempug Tarung Adu Tomat tersebut adalah miceun geugeuleuh keukeumeuh atau menyucikan diri,” ujar Bah Nanu mejelaskan.

Dikatakan Bah Nanu, tomat yang dilempar adalah tomat busuk, dan disebar dalam beberapa keranjang sayuran sebagai amunisi para petarung untuk saling lempar.

Kenapa tomat? Karena di desa ini banyak petani tomat dan ada suatu waktu Bah Nanu melihat tomat tomat ini di biarkan di ladang dan tidak di panen, waktu bertanya ke pada para petani tomat tomat tersebut kualitas nya jelek, kalo di jual harga nya jatuh, harga nya tidak sebanding dengan biaya angkut nya. dari kejadian tersebut Bah Nanu memiliki ide untuk menggunakan media tomat yang jelek / busuk dan tidak layak jual untuk Rempug Tarung Adu Tomat.

Masih menurut Bah Nanu, selain melestarikan tradisi, kegiatan ini juga untuk mengingkatkan perekonomian masyarakat Kampung Cirareumbi, karena saat berlangsungnya perang tomat juga terdapat lapak lapak di sempanjang jalan menuju pusat perang tomat, untuk menjajahkan kerajinan lokal hingga hasil bumi.

Kegiatan ini sudah mulai dari tahun 2010 hingga sekarang, yang selalu di lakukan setiap bulan Oktober setiap tahun nya. jadi buat kamu kamu yang main ikut dan merasakan seru nya perang tomat, tandai kalender tahun depan untuk datang ke Kampung Cikareumbi, Lembang

Harapan Bah Nanu, agar kegiatan ini bisa di support oleh pemerintah derah, dan keinginan nya tahun depan bisa memberikan wisata budaya yang lebih baik lagi, Bah Nanu mejelaskan ide nya kedepan akan di jual secara online, jadi masyarakat kota missal nya dari Bandung atau Jakarta membeli sebuah paket wisata budaya 2 hari 1 malan, mereka akan ikut dan merasakan langsung perang tomat, lengkap dengan sewa peralatan topeng dan tameng anyaman kayu, dan termasuk menginap di rumah penduduk agar bisa merasakan sensasi yang berbeda dari kehidupan kota. Dengan harga terjangkau, tak terasa menyimak informasi dari Bah Nanu waktu sudah mendekati pukul 11.00

Melihat persiapan sebelum perang tomat, kurang lebih ada 2 ton tomat yang akan di pakai untuk kegiatan kali ini
Topeng untuk pelindung kepala selama perang tomat, bagi wisatawan bisa menyewa topeng dan tameng agar bisa ikut perang tomat dengan membayar Rp 100.000, dan akan di berikan cinderamata berupa kaos.
Pawai budaya keliling kampung sebelum acara perang tomat di mulai 
Pawai budaya keliling kampung sebelum acara perang tomat di mulai 

Tepat pukul 11.00 susana semakin ramai, terlihat antusias wisatawan yang berasal dari berbagai daerah, bagi yang mengikuti perang tomat sudah mempersiapkan peratan nya dengan mengenakan topeng dan perisai nya, yang tidak ikut perang tomat, juga sudah nemempati posisi dan ber siap siap mengabadikan moment ini dengan gadget nya

Petasan… sebagai tanda Perang Tomat di mulai

Perang Tomat

Dua kubu saling berhadap hadapan memakai topeng anyaman bambu, tak lama kemudian suara untaian ledakan petasan berbunyi, datang penari yang melakukan upacara nimang topeng, selepas itu sejumlah warga tersebut saling beradu dengan melempar ribuan tomat kearah lawannya, riuh suara dan sorak sorai petarung yang sesekali menahan lemparan tomat dengan perisainya ikut menambah keseruan Kampung Cikareumbi, Desa Cikidang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Minggu (13/10/2019)
berikut ini beberapa keseruan yang bisa saya abadikan

Saling berhadap hadapan, lengkap dengan topeng dan tameng dari anyaman bambu.
Saling lempar tomat
Tidak hanya para petarung, masyarakat dan wisatawan juga boleh ikut melempar tomat
Penampakan amunisi tomat, sebagai informasi tomat yang di gunakan ini adalah tomat tomat yang tidak layak jual, dan akan di jadikan pupuk kompos
Saling lempat tomat sampai amunisi terakir.
Rempug Tarung Adu Tomat ini kurang lebih 45 menit lama nya
Rempug Tarung Adu Tomat atau Perang Tomat, Lembang 2019

Suasana riuh berlangsung kurang lebih 1 jam, akhir nya ribuan kilogram tomat habis tidak bersisa, di lemparkan para petarung warga dan wisatawan yang datang.

saya sendiri tidak terhitung berapa kali kepala ini terkena leparan tomat, untung nya saya menggunakan topeng anyaman bambu, jadi bisa bertahan. jalanan yang di penuhi tomat menjadi licin menyebabkan saya beberapa kali terpeleset. untung nya proteksi kamera DIY yang saya share di atas berkeja dengan maximal, kamera tetap berkerja dengan baik dan tidak mengalami masalah.

Jalanan kampung berubah menjadi warna oranye kemerahan, berlendir para peserta perang tomat penuh dengan biji tomat dan pasir bercapur aduk.

Setelah selesai perang adu tomat, warga saling bersalaman dan saling memaafkan, lalu bersama sama bergotong royong membersikan jalan kampung, dalam sekejap jalan yang sebelum nya penuh dengan tomat busuk yang pecah langsung bersih. Sisa sisa pasca perang tomat tersebut kemudian dikumpulkan untuk seterusnya dijadikan pupuk kompos.

Gotong Royong membersihkan sisa sisa perang tomat
Foto bersama setelah perang tomat selesai.

Setelah bersih bersih kami pun kembali ke jakarta, catatan saya wisata budaya ini sangat menarik, terlebih lagi “Perang Tomat” ini cuma ada dua di dunia, salah satu nya di Kampung Cikareumbi. jelas jika informasi nya lebih detail dan mudah di akses akan semakin banyak wisatawan yang datang.
buat teman teman yang ingin merasakan senasi perang tomat, tidak perlu jauh jauh ke spayol. tahun depan jangan lupa buat main ke Kampung Cikareumbi di bulan Oktober.

Ditulis oleh

Ngeblog untuk ninggalin jejak ...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.